Pembahasan kali ini mengenai solvent penetrant magnaflux yang merupakan jenis pengujian pada material las yang cacat. Secara umum pengelasan ini merupakan proses penyambungan logam yang memanaskan dua potong material secara bersama-sama sampai meleleh, dan membiarkannya membeku.
Jika Anda menginginkan sambungan logam yang berkualitas tinggi, maka Anda hanya perlu memperhatikan beberapa faktor seperti prosedur pengelasan, jenis dan ketebalan benda, pemilihan bahan tambahan atau elektroda, dan penyedian sudut kampuh.
Nah, saat proses pengelasan (welding) tabung yang terbuat dari stainless steel sering mengalami ketidaksempurnaan dalam proses penyambungan, diantaranya cacat las crack, porositas, penetrasi las yang berlebihan, undercut, percikan las yang berlebihan, dan burn through.
Jika cacat las ini tidak segera diperbaiki, maka retakan bisa menjadi lebih buruk dan menyebabkan fraktur getas yang merugikan.
Kesalahan dalam proses pengelasan ini salah satunya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti sumber daya manusia yang kurang terampil atau sarana dan prasarana yang kurang mendukung.
Jika Anda ingin menentukan apakah ada atau tidaknya cacat dari bahan ini, maka dapat dilakukan dengan pengujian seperti NDT (Non Distructive Test).
Karena pengujian ini dapat menjamin material yang Anda gunakan masih dalam keadaan aman dan belum melewati toleransi kerusakannya. Material yang Anda gunakan ini sebisa mungkin tidak akan mengalami kegagalan selama masa penggunaannya.
Pengujian tidak rusak (NDT) terdapat berbagai jenis salah satunya adalah liquid penetrant. Liquid penetrant ini berguna dalam dunia pengelasan. Pengujian ini memastikan kualitas benda padat dalam bentuk yang sempurna. Kemudian dalam pengujian menggunakan bahan dari magnaflux.
Pengujian ini juga memanfaatkan sebuah cairan penetran atau solvent penetrant. Untuk mengenal lebih jelas mengenai solvent penetrant magnaflux, yuk simak penjelasan dibawah ini!

Pengertian Solvent Penetrant Magnaflux
Pada pengujian material ini terdapat dua klasifikasi pengujian, yaitu destructive test dan non destructive test. Destructive test merupakan bentuk pengujian yang merusak dan hanya dilakukan dengan menggunakan spesimen uji selama pengujian dan mendapatkan sebuah hasil analisanya.
Sedangkan, non destruvtive test ini pengujian tidak perlu merusak spesimen atau produk yang diuji selama memasuki fase pengecekan kualitas produksi.
Nah, salah satu penyedia bahan dari pengujian non destruktif (NDT) yang terkenal adalah magnaflux. Menurut ansaitool, produk magnaflux terkenal secara internasional untuk memeriksa retakan, permukaan yang rusak, dan cacat dekat permukaan.
Produk ini sering digunakan oleh para insinyur, teknisi, dan mekanik yang menguji komponen untuk peralatan dan infrastruktur yang mereka butuhkan.
Mereka juga harus menentukan apakah komponen tersebut memerlukan perbaikan atau sudah mencapai titik akhir kegunaannya dan harus diganti.
Selain itu, magnaflux juga memiliki beberapa produk yang terdiri dari aerospace, otomotif, energi, makanan dan minuman, manufaktur umum, kelautan, lepas pantai, pipa minyak dan gas, serta kereta Api.
Magnaflux memiliki beberapa macam pilihan diantaranya yaitu penetrant, developer, dan cleaner. Produk dari magnaflux sendiri tujuannya untuk melakukan mengecek keretakan pada hasil lasan Anda.
Menurut sumber dari wikipedia, pengujian dari non destructive test (NDT) yang paling murah yaitu menggunakan metode penetrant test (PT) atau dye penetrant test (DPT) atau inspeksi penetrasi cair (LPI).
Metode non destructive test (NDT) ini bertujuan mendeteksi cacat atau keretakan yang tidak terlihat dengan mata telanjang atau bersifat mikro pada permukaan material yang akan diuji dengan cara menyemprotkan cairan penetran, dikutip dari ilmubeton.
Untuk melakukan pendekteksian keretakan ini tidak tergantung pada ukuran, bentuk, arah keretakan, struktur bahan atau komposisi retakan tersebut.
Ha ini juga didasarkan pada penggunaan sifat kapiler cairan. Artinya pada penetrasi kapiler cairan memiliki indikator khusus yang mengalami cacat. Kemudian metode NDT ini mudah untuk dilakukan dan hanya memerlukan waktu yang singkat.
Metode yang digunakan penetrant test, yaitu memakai perbedaan warna atau memakai fluoresensi. Namun, metode yang digunakan penetrant test paling umum adalah metode perbedaan warna.
Ketika melakukan pengujian dengan penetran pewarna biasanya digunakan di siang hari. Sedangkan pengujian penetran fluoresen ini dilakukan dalam kegelapan atau di bawah sinar UV.
Cairan penetrant atau solvent penetrant magnaflux bisa membantu Anda mengatasi masalah yang disebabkan oleh karat dan kotoran.
Cairan penetrant digunakan sebagai bahan antioksidasi untuk komponen yang berbahan logam ataupun non logam dengan cara melarutkan karat dan mencegah korosi.
Oleh karena itu, liquid atau solvent penetrant magnaflux ini menjadi solusi yang efektif ketika ada barang mereka yang mengalami karatan.
Kemudian, pengujian penetran cair atau solvent penetrant magnaflux ini dapat diterapkan pada bahan yang bersih, tidak berpori, memiliki komponen logam atau non-logam, akan tetapi tidak bisa digunakan ketika permukaannya kotor atau sangat kasar.
Sehingga, penting melakukan pembersihan permukaan sebelum melakukan solvent penetrant.
Metode pengujian ini bisa dilakukan dengan manual, semi otomatis atau otomatis penuh. Metode inspeksi penetran pada produk melakukan operasi secara terus-menerus menggunakan spesimen dengan cara dibersihkan, dicelupkan, dicuci, dan dikeringkan.
Menurut sumber dari otoblitz, penetran mengandung bahan pelarut seperti minyak tanah dan juga pelumas. Mengaplikasikan cairan penetran dapat melumasi komponen Anda, melarutkan karat, dan juga dapat menciptakan lapisan anti air.
Penetrant dapat digunakan untuk melumasi bagian yang bergerak, melindungi logam yang terpapar dari kelembaban atau mencegah karat.

Keuntungan dan Kerugian Pengujian Solvent Penetrant Magnaflux
Keuntungan utama dye penetrant test yaitu memiliki kecepatan dalam pengujian pada area dan volume yang luas, biaya sangat rendah, sensitivitas yang tinggi, cocok untuk bentuk yang kompleks, portable (bahan tersedia dalam kaleng semprot aerosol).
Kemudian kerugiannya adalah mendeteksi hanya untuk cacat permukaan, iritasi kulit, dan inspeksi harus dilakukan pada permukaan bersih yang halus, dan penetran yang berlebihan dapat dihilangkan sebelum diaplikasikan.
Jika melakukan pengujian pada permukaan yang kasar seperti lasan, maka akan menyulitkan pelepasan bahan penetran yang berlebihan dan dapat menyebabkan indikasi yang salah.
Salah satunya ketika tidak ada alternatif lainnya, maka pertimbangkanlah untuk menggunakan bahan penetran yang dapat dicuci dengan air.
Serta sebagian permukaan yang memiliki kontras warna yang cukup besar, membuat pewarna tersebut tidak bisa digunakan. Pembersihan diperlukan untuk menghilangkan kontaminan permukaan dan cacat yang ada.
Jika Anda menggunakan beberapa metode pembersihan, maka metode tersebut dapat mengganggu keakuratan tes Anda. Sehingga etsa asam ini digunakan untuk menghilangkan pewarnaan logam dan membuka rongga yang ada mungkin diperlukan.
Klasifikasi Pengujian Penetrant
Menurut workshopinsider, klasifikasi cairan penetran terdapat beberapa kategori yaitu: menghilangkan penetran, dan pengamatan warna kontras yang digunakan dalam proses penetran.
Nah, berikut ini klasifikasi dengan berbagai macam caranya:
1. Klasifikasi Solvent Penetrant Berdasarkan Cara Pembersihannya
Solvent Removable System
Ini digunakan selama proses pre-cleaning dan juga dilakukan pembasuhan liquid atau solvent penetrant.
Untuk mengaplikasikan pelarut, semprotkan ke kain bersih dan seka pada permukaan bahan. Kemudian gunakan kain kering untuk menghilangkan sisa pelarut dari permukaan.
Selain itu juga, penggunaan metode tersebut Anda juga bisa menyemprotkan ke permukaan material dengan solvent. Dapat dikatakan juga bahwa penetrant ini larut dalam cairan oli.
Water Washable Penetrant System
Cairan fluoresen dapat digunakan untuk pengujian yang cepat dan efisien.
Bahwa liquid atau solvent penetrant magnaflux harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh terlalu ditekankan karena dapat menyebabkan cairan keluar dari permukaan diskontinuitas di mana hal itu akan mempengaruhi hasil pengujian.
Post Emulsifible System
Sistem ini cocok untuk mendeteksi retakan kecil yang tidak terlihat secara kasat mata, untuk jenis cairan penetrannya yang tidak dapat hilang ketika dicuci menggunakan air, tetapi menggunakan jenis yang dilarutkan dengan oli.
Inspeksi memiliki cara tambahan yaitu berupa penambahan emulsifier yang akan diaplikasikan dan didiamkan di permukaan benda saat diuji.

2. Klasifikasi Liquid Penetrant Berdasarkan Cara Pengamatannya
Visible Penetrant
Jenis penetran ini memiliki warna merah, dengan penampilan yang kontras, dan developer berwarna putih. Ketika pengamatan tidak membutuhkan pencahayaan dari sinar ultraviolet, maka Anda hanya menggunakan cahaya lampu putih dengan kecerahan minimal 100 fc.
Nah, penting bagi Anda sebelum melakukan pengamatan apa pun, pastikan sinar diukur dengan lux meter.
Fluorescent Penetrant
Ketika Anda menggunakan cairan penetran ini, cairan ini akan berkilau ketika Anda menyinarinya dengan sinar ultra violet.
Cairan ini bergantung terhadap kapasitasnya saat menampilkan diri pada sinar UV yang rendah atau saat berada di ruangan yang minim cahaya atau gelap.
Dual Sensitivity Penetrant
Saat menggunakan spesimen uji, Anda pasti mengalami 2 kali proses pengujian yaitu visible dan fluorescent penetrant. Hal ini mengakibatkan hasil pengamatan akan lebih akurat.
Standar Pengujian Penetrant
Menurut detech, pengujian penetran ini Anda harus mengikuti prosedur dan syarat keberterimaan yang sudah ditentukan oleh standard dan code. Kode yang digunakan untuk uji penetrasi adalah sesuai dengan ASME section V article 6.
Kriteria Penerimaan Pengujian Penetrant
Menurut pengelasan, Hasil uji cairan penetran ini ditentukan oleh dimensi, dan jenis indikasi. Kemudian jenis pengujian ini terdiri dari linier indication dan rounded indication.
Pada rounded relevant Indication memiliki ukuran panjang kurang atau sama dengan ukuran lebarnya, sedangkan indikator linear memiliki ukuran lebih panjang lebih dari tiga kali lebarnya.
Jika dimensi tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh American Society for Mechanical Engineers (ASME), maka hasil uji penetran ditolak. Berikut ini kriteria penerimaan dalan uji penetran:
- Indikasi relevan linier memiliki ukuran indikasi dengan panjang lebih dari 1,5 mm.
- Untuk rounded relevant indication memiliki ukuran indikasi melingkar yang dimensinya lebih dari 5 mm.
- Indikasi melingkar yang berjumlah 4 atau lebih dan berada dalam satu baris dengan jarak antar indikasi dari tepi ke tepi harus kurang dari 1,5 mm.
Nah, ketika Anda melakukan pengujian, sebelumnya Anda memastikan prosedur keselamatan kerja yaitu dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti, pakaian dan celana bengkel, safety shoes, safety glasses, sarung tangan las, masker.
Kemudian, Anda harus berhati-hati pada saat pengaplikasian uji penetrant, jangan sampai Anda terkena material penetrant secara langsung, karena material penetrant ini mudah terbakar dan cenderung beracun.
Dan selalu menggunakan sarung tangan dan masker pernapasan selama pengujian, agar terhindar dari kontak langsung dengan material penetran dan menghirup debu yang berlebihan.
Pemeriksaan Penetran Cair Dengan NDT
Di bawah ini adalah langkah-langkah dalam pemeriksaan penetran cair:
1. Pra Pembersihan
Permukaan komponen saat diuji harus dibersihkan agar dapat menghilangkan kotoran, cat, minyak, gemuk atau kerak lepas yang dapat mencegah penetran dari cacat atau menyebabkan indikasi yang tidak relevan.
Ada beberapa cara untuk membersihkan permukaan, termasuk menggunakan pelarut, alkalizing, uap degreasing, atau peledakan dengan media.
Hasil akhir dari langkah ini adalah permukaan yang halus, di mana semua cacat yang ada telah dihilangkan dan dikeringkan.

2. Aplikasi Penetran
Penetran kemudian diterapkan pada permukaan objek yang sedang diuji. Penetran biasanya berupa cairan berwarna cerah dengan daya basah yang tinggi. Penetran dapat diberikan waktu rendam untuk menembus kekurangan, waktu yang dibutuhkan 5 hingga 30 menit.
Waktu penetran yang digunakan ini tergantung, bahan yang diuji dan ukuran cacat yang dicari. Misalnya, jika terdapat cacat dengan ukuran kecil, maka waktu penetrasi yang dibutuhkan lebih lama.
Karena sifatnya yang tidak kompatibel, seseorang harus berhati-hati ketika mengaplikasikan penetran berbasis pelarut ke permukaan yang akan diperiksa dengan pengembang yang dapat dicuci dengan air.
3. Penghapusan Penetran Berlebihan
Kelebihan penetran harus dihilangkan dari permukaan sebelum langkah berikutnya. Metode dipenghapusan dikendalikan oleh jenis penetran yang Anda gunakan. Penghapusan ini dapat dilakukan dengan dicuci, larut dalam air, larut dalam minyak, atau larut dalam alkohol.
Jika kelebihan penetrant tidak Anda hilangkan dengan benar setelah diaplikasikan, maka dapat meninggalkan latar belakang yang menutupi indikasi atau cacat.
Selain itu juga dapat menghasilkan indikasi palsu sehingga bisa menghambat kemampuan untuk melakukan pemeriksaan dengan benar dan tepat.
Selain itu, penghilangan penetran yang yang dilakukan secara berlebihan ini bisa ke satu arah baik secara vertikal atau horizontal sesuai dengan kasusnya.
Kemudian, pengemulsi ini menunjukkan tingkat sensitivitas yang tinggi, dan secara kimiawi bereaksi dengan penetran yang berminyak agar dapat dilepas dengan semprotan air.
Penting untuk tidak menyemprotkan pelarut apa pun ke permukaan uji secara langsung, karena ini dapat menghilangkan penetran dari dalam cacat.
4. Aplikasi Pengembang
Selanjutnya tahap mengaplikasin pengembang (developer), pengembang dapat diterapkan pada sampel. Ada beberapa jenis pengembang yang tersedia seperti, pengembang basah non air, bubuk kering, suspensi air, dan larut dalam air.
Kemudian dalam memilih jenis pengembang ini dapat diatur oleh kompatibilitas dari penetran. Misalnya developer ini tidak dapat mengaplikasikan suspendable dengan penetran yang dapat dicuci dengan air, dan juga dari kondisi inspeksinya.
Ketika Anda menggunakan non aqueous wet developer (NAWD) atau bubuk kering, sampel harus dikeringkan terlebih dahulu, sedangkan pengembang yang larut dapat diterapkan dengan bagian yang masih basah.
NAWD atau bubuk kering ini tersedia secara komersial dalam bentuk kaleng semprot aerosol, dan juga bisa menggunakan aseton, isopropil alkohol, atau propelan (campuran keduanya).
Pengembang harus membentuk lapisan semi-transparan yang merata dan menutupi seluruh permukaan.
Pengembang menarik penetran (bahan kimia yang digunakan untuk melarutkan logam) dari cacat ke permukaan untuk membentuk indikator (bleed-out).
Anda memerlukan latihan atau pengalaman untuk menafsirkan hasil dan mengkarakterisasi cacat dari indikasi yang Anda temukan.
5. Inspeksi
Inspektur akan menggunakan sumber cahaya tampak dengan intensitas yang cukup. Umumnya, 100 foot-candle atau 1100 lux untuk melakukan penetran pewarna yang tampak.
Radiasi UV-A dengan intensitas yang cukup memiliki daya 1.000 mikro watt per sentimeter persegi dan dikombinasikan dengan tingkat cahaya rendah sekitar kurang dari 2 kaki-lilin yang digunakan selama pemeriksaan penetran fluoresen.
Setelah waktu pengembangan 10-30 menit, pemeriksaan permukaan uji harus dilakukan, tergantung pada penetran dan pengembang yang digunakan.
Penundaan waktu ini mengakibatkan munculnya blotting. Sehingga inspektur pun dapat mengamati sampel pewarna tersebut untuk pembentukan indikasi saat pewarnanya terlihat.
Mengamati indikasi ini karena karakteristik bleed out merupakan hal yang penting dari karakterisasi interpretasi.
6. Pembersihan Pasca
Kemudian, permukaan uji ini dapat dibersihkan setelah inspeksi dan pencatatan cacat. Apalagi saat proses pelapisan pasca-inspeksi ini dijadwalkan.

Nah itu dia penjelasan mengenai solvent penetrant magnaflux mulai dari pengertian hingga langkah-langkah pada pengujian penetran cair atau solvent penetrant, Semoga bermanfaat ya!